Sinyal Ekonomi Menguat, Inflasi Terkendali dan Manufaktur Kembali Ekspansi

oleh -1 Dilihat
banner 468x60

Jakarta, — Sejumlah indikator ekonomi menunjukkan ketahanan perekonomian Indonesia tetap terjaga di tengah ketidakpastian global. Inflasi September berada dalam sasaran, neraca perdagangan mencatat surplus, sementara aktivitas manufaktur kembali memasuki zona ekspansi.

“Pemerintah terus menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi. Terjaganya inflasi, kembali ekspansifnya sektor manufaktur, dan tetap tumbuhnya ekspor menunjukkan bahwa fondasi perekonomian Indonesia tetap kuat di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian,” ujar Menko Perekonomian Airlangga Hartarto.

banner 336x280

Inflasi September 2026 tercatat 3,28 persen secara tahunan, masih berada dalam sasaran nasional 2,5±1 persen. Inflasi inti juga melandai menjadi 2,84 persen, menunjukkan tekanan harga relatif terkendali meski pemerintah tetap mewaspadai kelompok pangan yang dipengaruhi cuaca dan produksi.

“Terjaganya inflasi dalam rentang sasaran mencerminkan efektivitas sinergi kebijakan Pemerintah Pusat, Bank Indonesia, dan Pemerintah Daerah,” kata Airlangga.

Dari sisi perdagangan, surplus neraca perdagangan Januari-Agustus 2026 mencapai US$7,25 miliar. Pada Agustus saja, surplus meningkat menjadi US$3,55 miliar, sementara ekspor industri pengolahan terus menjadi salah satu penopang utama kinerja perdagangan nasional.

“Ekspor industri pengolahan tumbuh 6,62 persen dan menjadi kontributor utama pertumbuhan ekspor, mencerminkan berlanjutnya penguatan hilirisasi,” jelasnya.

Kinerja sektor manufaktur turut memperlihatkan perbaikan. PMI Manufaktur Indonesia pada September 2026 naik menjadi 52,4 dari 49,8 pada Agustus, menandakan aktivitas industri kembali berkembang seiring meningkatnya pesanan baru, produksi, ekspor, serta proyek-proyek baru.

“Dengan membaiknya produksi, permintaan, ekspor, dan penyerapan tenaga kerja, sektor manufaktur diharapkan terus menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia,” kata Airlangga.

Tenaga Ahli Bakom RI Fithra Faisal menilai penguatan ekonomi juga terlihat dari meningkatnya kontribusi investasi terhadap pertumbuhan. Menurutnya, perubahan struktur tersebut menunjukkan perekonomian mulai bergerak dari ketergantungan pada konsumsi menuju penguatan investasi dan penciptaan nilai tambah.

“Kita sudah ada perubahan struktur yang tadinya fokus ke konsumsi sekarang bergerak ke investasi,” ungkap Fithra.

Perubahan struktur pertumbuhan tersebut dapat menjadi pijakan untuk memperkuat investasi sekaligus meningkatkan penciptaan nilai tambah di dalam negeri. Di samping itu, pemerintah terus menjaga momentum tersebut melalui pengendalian harga, dukungan pembiayaan produktif, penguatan ketahanan pangan, serta perluasan investasi dan pasar ekspor. Kombinasi stabilitas makroekonomi dan penguatan sektor produksi diharapkan memperkokoh daya tahan ekonomi sekaligus memperluas manfaat pertumbuhan bagi masyarakat. (*)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.