Oleh: Anggina Wijayanti*
Menjelang penyelenggaraan Reuni 212 di kawasan Monas pada awal Desember mendatang, berbagai elemen bangsa kembali menegaskan pentingnya menjaga persatuan dan stabilitas nasional sebagai fondasi utama kehidupan bernegara. Dalam suasana sosial yang dinamis serta perkembangan informasi yang begitu cepat, aparat dan tokoh-tokoh nasional mengingatkan bahwa setiap kegiatan publik, terutama yang melibatkan massa dalam jumlah besar, harus menjadi momentum untuk memperkuat keharmonisan, bukan menimbulkan perpecahan. Kesadaran kolektif untuk merawat kebersamaan menjadi kunci dalam memastikan Indonesia tetap kokoh menghadapi tantangan zaman.
Pesan optimisme dan persatuan disuarakan oleh banyak tokoh nasional, salah satunya Ketua MPR RI Ahmad Muzani. Dalam berbagai kesempatan, ia menekankan bahwa Indonesia terus menjadi teladan dunia sebagai negara muslim terbesar yang sukses menjaga harmoni dalam keberagaman. Menurutnya, keberhasilan ini menjadi kebanggaan bersama karena menunjukkan bahwa nilai-nilai moderasi dan toleransi telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat. Ia meyakini bahwa penguatan persaudaraan antarumat dan komitmen untuk saling menghormati merupakan modal utama dalam memelihara stabilitas nasional, terutama menjelang pelaksanaan kegiatan keagamaan berskala besar seperti Reuni 212. Muzani juga menegaskan bahwa tugas lembaga negara seperti MPR adalah menjaga harmoni masyarakat agar semangat kebangsaan tetap menyala dan terjaga di seluruh lapisan.
Pandangan serupa juga datang dari tokoh dunia Islam, Syekh Muhammad bin Abdul Karim al-Issa, yang menilai Indonesia sebagai negara yang berhasil menunjukkan bagaimana keberagaman dapat hidup berdampingan secara damai. Ia memandang bahwa bangsa Indonesia telah mampu membangun kerukunan melalui pendekatan persaudaraan dan dialog, sehingga keberhasilannya memberi pengaruh positif bagi banyak negara lain. Penilaian ini tidak hanya menjadi pengakuan, melainkan juga dorongan moral agar masyarakat Indonesia semakin percaya diri dalam mempertahankan harmoni nasional, termasuk saat menyelenggarakan kegiatan yang melibatkan umat dalam skala besar.
Di tingkat nasional, perhatian terhadap stabilitas negara juga disampaikan oleh Bambang Soesatyo, Wakil Ketua Umum Partai Golkar sekaligus tokoh yang selama ini aktif mendorong penguatan kebangsaan. Ia menggambarkan bahwa keluarga besar TNI, termasuk organisasi putra-putri purnawirawan, memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas serta mendukung agenda pembangunan pemerintah. Menurutnya, modal sosial yang dimiliki komunitas tersebut berupa jaringan kuat hingga tingkat akar rumput dan pengalaman pengabdian pada negara harus digunakan untuk memperkuat persatuan serta memastikan program pemerintah berjalan efektif dan tepat sasaran. Ia memandang bahwa dukungan elemen masyarakat seperti ini sangat penting demi menjaga ketertiban dan kepercayaan publik terhadap pemerintah, terutama menjelang kegiatan besar seperti Reuni 212 yang membutuhkan koordinasi matang antara penyelenggara, aparat, dan pemerintah daerah.
Di Jakarta, Pemerintah Provinsi DKI menunjukkan sikap terbuka dan positif menyambut rencana penyelenggaraan Reuni 212. Wakil Gubernur Rano Karno menuturkan bahwa pihaknya siap memenuhi undangan panitia sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan yang bertujuan mempererat silaturahmi umat. Ia menegaskan bahwa pengelolaan kawasan Monas merupakan tanggung jawab bersama berbagai lembaga sehingga pemerintah daerah akan memastikan koordinasi berjalan secara baik. Semangat ini juga diperlihatkan Gubernur Pramono Anung yang disebut memberikan dukungan penuh agar acara berlangsung tertib, damai, dan memberi manfaat bagi seluruh pihak. Pemerintah daerah bahkan meminta seluruh organisasi perangkat daerah terkait untuk membantu kelancaran acara, sebagai bentuk komitmen menghadirkan pelayanan publik yang responsif dan inklusif.
Koordinasi antara aparat keamanan dan panitia juga menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan kegiatan ini. Kepolisian menekankan bahwa pengamanan dilakukan dengan pendekatan humanis dan persuasif untuk menjaga kenyamanan jamaah serta ketertiban umum. Kerja sama ini menunjukkan bahwa pemerintah dan masyarakat memiliki tujuan yang sama, yaitu memastikan aktivitas keagamaan berjalan damai serta menjadi wadah memperkuat kebangsaan. Komitmen ini sekaligus menegaskan bahwa negara hadir untuk menjamin kebebasan warga dalam menjalankan kegiatan keagamaan selama tetap mendukung persatuan dan stabilitas nasional.
Sementara itu, panitia juga mengajak masyarakat luas untuk menyambut Reuni 212 dengan semangat positif. Mereka menilai acara ini bukan hanya agenda ritual, tetapi juga momen untuk menyebarkan pesan persaudaraan, memperkuat semangat ukhuwah, dan meneguhkan komitmen menjaga NKRI. Doa bersama akan dipanjatkan untuk keselamatan bangsa dan dukungan moral bagi Palestina, menunjukkan bahwa kegiatan ini mengusung pesan kemanusiaan universal.
Pada akhirnya, menjelang isu Reuni 212, seruan untuk menjaga stabilitas nasional harus dipahami sebagai ajakan moral agar seluruh elemen bangsa mengutamakan kepentingan bersama. Persatuan adalah kekuatan utama Indonesia, dan setiap momentum publik merupakan kesempatan untuk memperkuatnya. Dengan kolaborasi pemerintah, aparat, tokoh masyarakat, dan warga, pelaksanaan Reuni 212 diharapkan menjadi kegiatan yang membawa kesejukan, mengokohkan rasa kebangsaan, dan menjadi bukti bahwa Indonesia mampu menjaga harmoni di tengah keberagaman.
*Penulis merupakan Pengamatan Sosial dan Politik












