Pemerintah Pastikan MBG Berlanjut di Bulan Ramadan dengan Penyesuaian Teknis

oleh -1 Dilihat
oleh
banner 468x60

Jakarta — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dipastikan tetap berjalan selama bulan Ramadan dengan sejumlah penyesuaian teknis. Kebijakan ini diambil untuk memastikan kebutuhan gizi penerima manfaat tetap terpenuhi tanpa mengganggu pelaksanaan ibadah puasa, khususnya bagi peserta didik muslim.

Pelaksanaan MBG selama Ramadan menitikberatkan pada fleksibilitas menu dan waktu distribusi. Penyesuaian tersebut diterapkan secara kontekstual, menyesuaikan kondisi penerima manfaat di tiap wilayah, mulai dari siswa sekolah, santri pesantren, hingga kelompok ibu hamil dan balita.

banner 336x280

Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan menegaskan bahwa program tersebut tidak dihentikan selama Ramadan. Fokus utama pemerintah adalah menjaga keberlanjutan program sekaligus menghormati praktik keagamaan masyarakat.

“Kita tadi sudah memutuskan pelaksanaan MBG pada bulan Ramadan tetap berjalan karena anak sekolah masuk, diberikan makanannya yang kering. Untuk muslim yang berpuasa dikasih makannya kering,” ujar Zulkifli Hasan.

Keputusan tersebut menandai perubahan pendekatan distribusi, khususnya bagi siswa muslim yang menjalankan puasa. Menu kering dipilih agar makanan dapat disimpan dan dikonsumsi saat waktu berbuka, tanpa mengurangi nilai manfaat program.

Sementara itu, sekolah berbasis masyarakat nonmuslim tetap mendapatkan MBG seperti biasa. Distribusi dilakukan pada pagi hari dengan menu reguler, tanpa perubahan skema. Mekanisme serupa juga berlaku bagi ibu hamil dan balita yang tidak menjalankan puasa, sehingga kesinambungan asupan gizi tetap terjaga.

Penyesuaian juga menyentuh lingkungan pesantren. Zulkifli Hasan menjelaskan bahwa tidak ada perubahan menu untuk santri, namun waktu distribusi disesuaikan dengan jadwal berbuka puasa.

“Nah, yang pesantren, geser waktu, ngasihnya sore pas buka. Jadi nggak ada perubahan,” imbuh Zulkifli Hasan.

Dari sisi teknis gizi, Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana memastikan bahwa menu kering yang disiapkan selama Ramadan tetap memenuhi standar nutrisi.

Variasi menu dirancang agar tidak monoton dan tetap mengandung protein serta zat gizi penting lainnya.

“Contoh ya untuk puasa, nih, kurma, telur rebus atau telur asin atau telur pindang, buah, susu, dan abon,” ujar Dadan Hindayana.

Menu tersebut dirancang agar praktis dibawa pulang oleh siswa setelah kegiatan belajar mengajar. Dengan skema ini, MBG tetap berfungsi sebagai dukungan gizi harian meski pola konsumsi berubah selama Ramadan.

Lebih lanjut, Dadan Hindayana menjelaskan bahwa distribusi akan disesuaikan dengan karakteristik wilayah. Di daerah mayoritas muslim, makanan dibagikan pada siang hari untuk dikonsumsi saat berbuka, sementara di wilayah nonpuasa layanan tetap normal.

“Di daerah yang mayoritas muslim akan dibagikan di siang hari pada saat anak sekolah untuk dibawa pulang, untuk jadi menu pada saat buka. Untuk anak sekolah, di daerah yang mayoritas tidak puasa, pelayanannya normal,” jelas Dadan Hindayana.

Melalui penyesuaian ini, MBG diharapkan tetap menjadi instrumen penting dalam menjaga kualitas gizi masyarakat selama Ramadan, sekaligus mencerminkan kebijakan yang adaptif dan inklusif.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.