Cek Kesehatan Gratis Jadi Solusi Akses Kesehatan Merata

oleh -34 Dilihat
oleh
banner 468x60

Oleh: Chandra Arif Pratama )*

Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) kian menegaskan posisinya sebagai instrumen strategis pemerintah dalam mewujudkan akses kesehatan yang merata dan berkeadilan. Di tengah tantangan geografis, kesenjangan layanan, serta meningkatnya beban penyakit tidak menular, kehadiran CKG menjadi jawaban konkret atas kebutuhan pemeriksaan kesehatan yang mudah dijangkau seluruh lapisan masyarakat.

banner 336x280

Pelaksanaan CKG kini tidak lagi terbatas di puskesmas. Pemerintah memperluas cakupan layanan hingga ke sekolah, tempat kerja, serta berbagai institusi publik lainnya. Langkah ini mencerminkan komitmen negara untuk mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat, bukan sebaliknya.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan capaian program ini terus meningkat. Hingga awal 2026, lebih dari 4,5 juta masyarakat telah mengikuti pemeriksaan melalui skema CKG. Angka tersebut menggambarkan tingginya respons publik sekaligus efektivitas pendekatan jemput bola yang diterapkan pemerintah.

Fokus utama program ini adalah deteksi dan pengobatan hipertensi, diabetes, obesitas, serta gangguan kesehatan gigi yang masih banyak ditemukan di berbagai kelompok usia. Penyakit-penyakit tersebut kerap berkembang tanpa gejala, sehingga membutuhkan skrining rutin untuk mencegah komplikasi serius.

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa tujuan utama CKG adalah memastikan masyarakat tidak terlambat mendapatkan pengobatan. Ia menjelaskan bahwa menjaga kesehatan bukan sekadar mengetahui kondisi tubuh, melainkan memastikan setiap potensi gangguan dapat ditangani sejak dini agar tidak berkembang menjadi masalah yang lebih berat.

Pendekatan preventif ini memperlihatkan perubahan paradigma kebijakan kesehatan nasional. Pemerintah tidak lagi hanya berfokus pada pengobatan kuratif, tetapi menempatkan deteksi dini sebagai fondasi utama pembangunan kesehatan.

Kementerian Kesehatan juga menekankan pentingnya intervensi yang menyeluruh, berkelanjutan, dan melibatkan berbagai sektor, terutama dalam menghadapi tantangan penuaan penduduk. Temuan dari pelaksanaan CKG serta pembelajaran dari studi Health, Aging, and Retirement in Thailand menunjukkan bahwa Indonesia menghadapi dinamika serupa dengan negara lain di kawasan, yakni peningkatan populasi lanjut usia yang diiringi risiko penyakit tidak menular.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menjelaskan bahwa pemerintah telah membangun infrastruktur skrining yang luas melalui CKG dengan memanfaatkan layanan primer dan dukungan sistem digital. Program ini dirancang menjangkau seluruh siklus hidup, termasuk kelompok lansia yang membutuhkan perhatian khusus.

Capaian skrining pada lansia menunjukkan hasil yang signifikan. Sekitar 6 juta lansia atau lebih dari sepertiga target nasional telah mengikuti pemeriksaan. Meski demikian, data hasil skrining juga mengungkap adanya tantangan klinis yang memerlukan strategi tindak lanjut yang lebih terarah. Temuan tersebut justru memperkuat urgensi keberlanjutan program agar cakupan semakin luas dan intervensi semakin tepat sasaran.

Di lapangan, implementasi CKG terus diperkuat. Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono, saat meninjau pelaksanaan di Puskesmas Cikupa, Kabupaten Tangerang, menegaskan bahwa pemeriksaan mencakup deteksi diabetes, hipertensi, hingga gangguan pernapasan. Ia menyampaikan bahwa banyak penyakit baru teridentifikasi melalui tes laboratorium karena sebelumnya tidak bergejala.

Menurutnya, peserta yang terdeteksi memiliki masalah kesehatan langsung memperoleh layanan pengobatan awal selama sekitar 10 hingga 15 hari. Sambil menjalani terapi, mereka juga difasilitasi untuk mengurus kepesertaan BPJS Kesehatan apabila belum terdaftar. Skema ini memastikan tidak ada peserta yang terhenti pada tahap diagnosis semata.

Cakupan CKG di Kabupaten Tangerang sendiri telah mencapai sekitar 1,3 juta pemeriksaan. Pemerintah daerah bersama Kementerian Kesehatan memperluas titik layanan tidak hanya di fasilitas kesehatan, tetapi juga di pasar, sekolah, kantor, perusahaan, hingga lingkungan RT dan RW. Strategi ini dinilai efektif dalam mengurangi hambatan akses sekaligus meningkatkan partisipasi masyarakat.

Perluasan ini juga menunjukkan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam memastikan program berjalan optimal. Dukungan lintas sektor memperkuat efektivitas layanan, sekaligus membangun kesadaran kolektif bahwa kesehatan merupakan tanggung jawab bersama. Dengan model pelayanan yang adaptif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat, CKG berpotensi menjadi fondasi jangka panjang bagi sistem kesehatan yang lebih tangguh.

Secara keseluruhan, Cek Kesehatan Gratis telah berkembang menjadi solusi sistemik untuk pemerataan layanan kesehatan. Program ini bukan sekadar agenda pemeriksaan rutin, melainkan bagian dari transformasi layanan primer yang memperkuat fondasi kesehatan nasional.

Melalui deteksi dini, pengobatan cepat, dan perluasan akses hingga ke tingkat komunitas, pemerintah menunjukkan komitmen nyata dalam membangun masyarakat yang lebih sehat, produktif, dan terlindungi secara berkelanjutan.

Ke depan, konsistensi pelaksanaan dan penguatan kualitas tindak lanjut menjadi kunci agar manfaat program semakin optimal. Pemerintah telah meletakkan dasar kebijakan yang kuat dengan menjadikan skrining sebagai pintu masuk pelayanan kesehatan yang terintegrasi.

Dengan dukungan data yang semakin akurat, koordinasi lintas sektor yang solid, serta partisipasi aktif masyarakat, CKG berpotensi menekan beban pembiayaan kesehatan jangka panjang sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Upaya ini memperlihatkan bahwa pembangunan kesehatan tidak dilakukan secara sporadis, melainkan melalui perencanaan terukur yang berorientasi pada hasil dan keberlanjutan.

*) Pengamat Kebijakan Sosial – Lembaga Sosial Madani Institute

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.