Danantara Mesin Hilirisasi dan Magnet Investasi Strategis

oleh -13 Dilihat
oleh
banner 468x60

Oleh: Arisya Ramadhani *)

Transformasi ekonomi Indonesia saat ini sedang diarahkan pada penguatan struktur industri yang lebih terintegrasi melalui optimalisasi sumber daya alam di dalam negeri. Pemerintah secara bertahap menggeser paradigma dari eksportir bahan mentah menjadi negara yang mengedepankan pengolahan nilai tambah melalui kebijakan hilirisasi yang sistematis. Instrumen utama dalam mendukung agenda ini adalah Badan Pengelola Investasi Danantara, yang berfungsi sebagai lembaga strategis untuk mengelola modal sekaligus menggerakkan sektor-sektor industri prioritas. Keberadaan Danantara diharapkan mampu menjadi jembatan bagi masuknya investasi global yang berkelanjutan dalam ekosistem ekonomi nasional.

banner 336x280

Signifikansi peran Danantara terlihat nyata dalam kunjungan kenegaraan Presiden ke Amerika Serikat baru-baru ini. Di hadapan para pelaku usaha dalam forum bisnis US Chamber of Commerce di Washington D.C., ditegaskan bahwa Indonesia adalah destinasi investasi yang kompetitif, stabil, dan menjanjikan. Komitmen ini diperkuat dengan penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang memberikan kepastian hukum dan akses pasar yang lebih luas bagi kedua negara. Perjanjian ini bukan sekadar dokumen diplomatik, melainkan sinyal kuat bahwa Indonesia siap mengintegrasikan rantai pasoknya dengan ekonomi global melalui kemitraan yang setara dan saling menguntungkan.

Menteri Investasi dan Hilirisasi yang juga menjabat sebagai CEO Danantara, Rosan P. Roeslani, menjelaskan bahwa kesepakatan ART tersebut membuka pintu bagi berbagai transaksi strategis, mulai dari sektor penerbangan hingga ketahanan energi. Salah satu poin pentingnya adalah rencana pembelian unit pesawat Boeing serta peningkatan kerja sama impor energi yang diproyeksikan mencapai angka signifikan per tahunnya. Di sini, Danantara hadir untuk memastikan bahwa setiap investasi yang masuk tidak hanya berhenti pada angka statistik, tetapi benar-benar memberikan nilai tambah bagi ekonomi domestik melalui transfer teknologi dan penguatan infrastruktur industri.

Fokus utama pemerintah saat ini adalah mereplikasi kesuksesan hilirisasi nikel pada komoditas strategis lainnya, terutama bauksit. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, dalam sebuah forum ekonomi mengingatkan bahwa kebijakan pelarangan ekspor bijih nikel sejak tahun 2020 telah berhasil meningkatkan nilai ekspor produk turunan hingga sepuluh kali lipat dalam waktu singkat. Keberhasilan ini menjadi cetak biru bagi pengelolaan bauksit, di mana Indonesia memiliki cadangan yang sangat melimpah secara global. Dengan potensi sumber daya mencapai miliaran ton, pembangunan industri aluminium nasional menjadi keharusan demi kedaulatan ekonomi.

Melalui Danantara dan MIND ID, pemerintah telah menyiapkan peta jalan yang komprehensif untuk mengintegrasikan rantai pasok bauksit-alumina-aluminium. Pembangunan fasilitas Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat, merupakan bukti nyata langkah tersebut. Proyek ini dirancang untuk memutus ketergantungan pada impor alumina dan memperkuat basis produksi aluminium dalam negeri. Jika seluruh fase proyek ini beroperasi, Indonesia akan memiliki kapasitas produksi yang mampu memenuhi kebutuhan industri manufaktur nasional secara mandiri. Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, menekankan bahwa proyek-proyek ini adalah bentuk kontribusi nyata dalam memperkuat kedaulatan negara di sektor mineral.

Dampak ekonomi dari hilirisasi ini sangatlah masif. Secara matematis, pengolahan bijih bauksit menjadi aluminium mampu meningkatkan nilai tambah hingga 70 kali lipat. Lonjakan nilai ini tidak hanya akan mendongkrak Produk Domestik Bruto (PDB), tetapi juga meningkatkan penerimaan negara dan cadangan devisa secara signifikan. Lebih jauh lagi, industri manufaktur nasional akan mendapatkan kepastian pasokan bahan baku dengan harga yang lebih kompetitif, yang pada akhirnya akan menciptakan lapangan kerja luas dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.

Namun, visi pemerintah tidak berhenti pada mineral konvensional. Danantara kini mulai merambah ke sektor yang lebih canggih, yakni pengembangan unsur tanah jarang atau rare earth elements (REE). Melalui kolaborasi strategis dengan mitra internasional seperti New Energy Metals Holdings Ltd, Indonesia mulai mengevaluasi potensi rantai pasok global yang mencakup sumber daya niobium dan REE. Material-material ini adalah komponen kunci bagi teknologi masa depan, mulai dari kendaraan listrik, energi terbarukan, hingga industri pertahanan tingkat lanjut.

Kepala Badan Industri Mineral, Brian Yuliarto, menyatakan bahwa kemitraan semacam ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan dunia terhadap kapasitas industri Indonesia. Dengan melibatkan Danantara sebagai platform pembiayaan dan partisipasi investasi, Indonesia bertujuan untuk membangun pusat pemrosesan hilir yang kompetitif di pasar mineral kritis global. Hal ini sejalan dengan misi Presiden untuk menjadikan Danantara sebagai motor penggerak dalam menginisiasi berbagai proyek hilirisasi baru setiap tahunnya, termasuk proyek inovatif seperti pengolahan sampah menjadi energi.

Presiden secara konsisten meyakinkan para investor global bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang sangat sehat, dengan pertumbuhan yang stabil, inflasi terkendali, dan disiplin fiskal yang terjaga. Dengan mengintegrasikan kekuatan sumber daya alam, stabilitas politik, dan visi industrialisasi yang jelas, Indonesia sedang memosisikan diri sebagai pemain utama dalam rantai pasok global. Kebijakan hilirisasi yang didukung penuh oleh Danantara akan memastikan bahwa kekayaan alam Nusantara benar-benar dikelola untuk kemakmuran rakyat dan kemajuan peradaban masa depan.

*) Peneliti Pusat Studi Ekonomi Strategis dan Kebijakan Publik

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.