Ekonomi Hijau Diperkuat lewat Pemulihan Mangrove dan Pasar Karbon

oleh -7 Dilihat
oleh
banner 468x60

JAKARTA – Pemerintah terus memperkuat komitmen mewujudkan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan melalui pemulihan ekosistem mangrove dan pengembangan pasar karbon. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memastikan pembangunan ekonomi berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan, penciptaan lapangan kerja hijau, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Komitmen itu ditegaskan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Moh Jumhur Hidayat, saat puncak peringatan Hari Mangrove Sedunia 2026 di Pelabuhan Ekowisata Mangrove Batu Lumbang, Kota Denpasar. Menurutnya, pemulihan lingkungan merupakan investasi jangka panjang yang memberikan manfaat ekologis sekaligus membuka peluang ekonomi baru.

banner 336x280

“Menjaga bumi bukan berarti menghentikan pertumbuhan ekonomi. Justru melalui pemulihan lingkungan, kita dapat menciptakan sumber ekonomi baru yang memberi manfaat bagi alam sekaligus masyarakat,” ujar Menteri Jumhur.

Ia menjelaskan, mangrove memiliki kemampuan menyerap karbon hingga empat sampai lima kali lebih besar dibandingkan vegetasi pada umumnya. Potensi tersebut menjadikan rehabilitasi mangrove semakin strategis dalam mendukung upaya pengurangan emisi sekaligus pengembangan pasar karbon.

“Ketika karbon itu dijual, pekerja tapak dan warga lokal juga akan mendapatkan benefit sharing dari hasil penjualan karbon tersebut. Jadi menanam mangrove adalah kegiatan yang menguntungkan,” katanya.

Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki menegaskan pentingnya pelibatan masyarakat dalam pengembangan perdagangan karbon agar manfaat ekonomi dari konservasi dapat dirasakan secara langsung.

“Kami mendorong banyak skema perdagangan karbon di kawasan mangrove yang melibatkan masyarakat sehingga benefit-nya juga kembali kepada masyarakat,” tuturnya.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui penanaman 15.000 bibit Rhizophora mucronata di Kawasan Ekowisata Mangrove Batu Lumbang, Taman Hutan Raya Ngurah Rai, Bali. Kegiatan yang diinisiasi KLH bersama Pemerintah Provinsi Bali itu turut didukung PLN Indonesia Power UBP Bali dan berbagai pemangku kepentingan.

Senior Manager PLN Indonesia Power UBP Bali Made Harta Yasa mengatakan, keberhasilan konservasi membutuhkan konsistensi dalam perawatan.

“Kami tidak hanya menanam, tetapi juga menjaga. Harapannya seluruh bibit yang ditanam dapat tumbuh dan berkembang sehingga ekosistem mangrove tetap terjaga,” ujarnya.

Dengan luas sekitar 1.373,5 hektare, Tahura Ngurah Rai diharapkan menjadi contoh nyata bahwa konservasi lingkungan dapat berjalan selaras dengan pertumbuhan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat, sekaligus memperkuat fondasi ekonomi hijau Indonesia.
(*/rls)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.