MBG di Bulan Ramadan dan Upaya Menjaga Asupan Gizi Anak

oleh -4 Dilihat
oleh
banner 468x60

Oleh: Nur Utunissa

Bulan Ramadan merupakan periode penting dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Indonesia. Di tengah perubahan pola aktivitas harian akibat ibadah puasa, perhatian terhadap pemenuhan gizi anak menjadi isu yang tidak boleh terabaikan. Anak-anak, terutama usia sekolah, berada pada fase pertumbuhan yang membutuhkan asupan gizi seimbang untuk menunjang perkembangan fisik, kognitif, dan daya tahan tubuh.

banner 336x280

Dalam konteks inilah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki peran strategis sebagai instrumen dalam menjaga kualitas gizi anak selama Ramadan, sekaligus memastikan bahwa perubahan waktu makan tidak berdampak negatif terhadap kesehatan dan proses belajar mereka. Puasa Ramadan membawa perubahan signifikan terhadap pola makan keluarga. Waktu konsumsi makanan yang sebelumnya tersebar sepanjang hari menjadi lebih terbatas pada waktu sahur dan berbuka.

Kondisi ini berpotensi memengaruhi kualitas dan kuantitas asupan gizi anak apabila tidak dikelola dengan baik. Pada sebagian keluarga, sahur sering kali dilakukan secara sederhana dengan menu terbatas, sementara berbuka cenderung didominasi makanan tinggi gula dan lemak. Ketidakseimbangan ini dapat menyebabkan anak kekurangan zat gizi penting seperti protein, zat besi, kalsium, serta vitamin dan mineral lainnya yang sangat dibutuhkan selama masa pertumbuhan.

Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah memastikan keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis selama bulan Ramadan dengan pendekatan yang adaptif. Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana mengatakan bahwa Badan Gizi Nasional memastikan program Makan Bergizi Gratis tetap dibagikan selama bulan Ramadan dengan empat skema pembagian. Skema tersebut disesuaikan dengan kondisi peserta didik di sekolah hingga lingkungan pesantren agar program tetap berjalan optimal.

Ia menjelaskan bahwa mekanisme pertama diterapkan di sekolah pada daerah dengan mayoritas siswa berpuasa. Dalam skema ini, makanan tetap dikirim ke sekolah, namun dalam bentuk menu yang lebih tahan lama dan dapat dibawa pulang untuk dikonsumsi saat berbuka. Pendekatan ini dirancang agar anak tetap memperoleh asupan gizi yang memadai tanpa mengganggu pelaksanaan ibadah puasa, sekaligus meminimalkan potensi pemborosan makanan.

Mekanisme kedua diterapkan di sekolah pada daerah dengan mayoritas siswa tidak berpuasa. Pada kondisi ini, layanan MBG tetap berjalan normal tanpa perubahan skema distribusi. Sementara itu, mekanisme ketiga memastikan bahwa program MBG bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita tetap berjalan seperti biasa selama bulan Ramadan. Kelompok ini tetap menjadi prioritas karena kebutuhan gizinya bersifat khusus dan berkelanjutan. Adapun mekanisme keempat diterapkan secara khusus di lingkungan pesantren dengan menyesuaikan sistem pendidikan serta pola konsumsi santri.

Dari sisi komposisi, MBG selama Ramadan tetap diarahkan pada prinsip gizi seimbang. Protein berperan penting dalam mendukung pertumbuhan dan perbaikan jaringan tubuh, sementara karbohidrat kompleks menjadi sumber energi yang lebih stabil selama berpuasa. Lemak sehat berfungsi sebagai cadangan energi, sedangkan vitamin dan mineral berperan menjaga daya tahan tubuh di tengah perubahan pola tidur dan aktivitas selama bulan puasa.

Dokter medis sekaligus edukator kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Muhammad Fajri Adda’i menegaskan bahwa MBG selama Ramadan tidak semata soal pembagian makanan, tetapi juga berfungsi sebagai sarana edukasi nutrisi bagi anak. Ia menilai bahwa pemenuhan gizi tetap krusial untuk menjaga kondisi fisik dan mental anak selama menjalani ibadah puasa.

Manfaat MBG selama Ramadan tidak hanya dirasakan dari sisi kesehatan fisik, tetapi juga berdampak pada kesiapan belajar anak. Anak dengan asupan gizi yang baik cenderung memiliki konsentrasi lebih stabil, tidak mudah lelah, dan mampu mengikuti proses pembelajaran dengan optimal meskipun sedang berpuasa. Hal ini menjadi relevan mengingat kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung selama bulan Ramadan dengan sejumlah penyesuaian waktu.

Selain itu, MBG juga berperan dalam menjaga pemerataan sosial. Ramadan sering kali memperlihatkan perbedaan kemampuan keluarga dalam menyediakan makanan bergizi. Melalui MBG, negara hadir untuk memastikan bahwa setiap anak, tanpa memandang latar belakang sosial ekonomi, tetap memperoleh akses terhadap makanan bergizi. Prinsip ini sejalan dengan nilai kepedulian dan solidaritas sosial yang menjadi esensi bulan Ramadan.

Komitmen pemerintah terhadap keberlanjutan MBG selama Ramadan juga ditegaskan oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan. Ia menyampaikan bahwa program Makan Bergizi Gratis tetap berjalan di bulan Ramadan dan distribusinya akan disesuaikan dengan situasi serta kondisi di lapangan. Ia juga menjelaskan bahwa MBG yang dibagikan kepada siswa beragama Islam disediakan dalam bentuk menu makanan kering yang dapat dibawa pulang.

Selain itu, koordinasi antara sekolah, penyedia makanan, dan pemerintah daerah menjadi faktor kunci agar pelaksanaan program berjalan tepat sasaran dan sesuai kebutuhan lokal. Dengan kebijakan yang adaptif dan pelaksanaan yang terukur seperti MBG, bulan suci ini justru dapat menjadi momentum penguatan kesadaran kolektif tentang pentingnya gizi seimbang dan tanggung jawab bersama dalam menjaga tumbuh kembang anak. Program Makan Bergizi Gratis di bulan Ramadan menjadi contoh bagaimana kebijakan publik dapat berjalan seiring dengan nilai keagamaan demi mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.

*) Penulis adalah Penulis adalah Pegiat Literasi pada Narasi Nusa Institute

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.