MBG Tepat Sasaran: Pendekatan Berbasis Kebutuhan dalam Kebijakan Gizi

oleh -2 Dilihat
oleh
banner 468x60

Oleh: Bara Winatha *)

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah terus diperkuat, baik dari sisi pelaksanaan maupun arah kebijakannya. Salah satu hal yang kini menjadi perhatian adalah pentingnya pendekatan berbasis kebutuhan, agar program ini benar-benar menjangkau kelompok yang paling membutuhkan. Dengan memprioritaskan anak-anak yang mengalami kekurangan gizi serta keluarga kurang mampu, langkah ini dinilai lebih tepat sasaran dalam meningkatkan kualitas gizi nasional sekaligus memastikan penggunaan anggaran negara tetap efektif dan optimal.

banner 336x280

Pakar Kebijakan Publik Universitas Indonesia, Lina Miftahul Jannah, mengatakan bahwa penajaman sasaran program MBG merupakan momentum penting untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaannya. Ia menilai bahwa program ini memang sejak awal ditujukan untuk membantu kelompok yang memiliki keterbatasan dalam mengakses makanan bergizi, baik karena faktor ekonomi maupun keterbatasan akses geografis. Oleh karena itu, menurutnya, langkah untuk memfokuskan MBG kepada anak-anak kurang gizi merupakan kebijakan yang tepat dan sejalan dengan tujuan dasar program tersebut.

Lina menjelaskan bahwa kelompok sasaran MBG seharusnya mencakup anak-anak yang berasal dari keluarga yang tidak mampu memenuhi kebutuhan gizi secara mandiri. Selain itu, anak-anak yang tinggal di wilayah dengan keterbatasan akses terhadap pangan bergizi juga perlu menjadi prioritas. Ia menekankan bahwa pendekatan berbasis kebutuhan akan membuat program lebih efektif karena intervensi dilakukan pada kelompok yang benar-benar membutuhkan.

Pendekatan berbasis kebutuhan juga mendapat dukungan dari akademisi lainnya. Pengamat Kebijakan Publik Universitas Indonesia, Eko Prasojo, mengatakan bahwa kebijakan untuk memfokuskan MBG pada anak kurang gizi dan keluarga kurang mampu merupakan langkah yang tepat dalam mencegah pemborosan anggaran negara. Ia menilai bahwa program yang bersifat universal berpotensi menghasilkan ketidakefisienan, seperti makanan yang tidak terpakai atau tidak memberikan dampak signifikan terhadap perbaikan gizi.

Eko menjelaskan bahwa dengan target yang lebih terukur, program MBG dapat memberikan dampak yang lebih nyata dalam mengurangi angka stunting dan meningkatkan kualitas kesehatan anak. Kejelasan sasaran akan membantu pemerintah dalam merancang intervensi yang lebih tepat, baik dari sisi jumlah, kualitas, maupun distribusi makanan yang diberikan. Menurutnya, salah satu langkah penting dalam mendukung pendekatan ini adalah penggunaan data berbasis wilayah terkecil, seperti desa dan kelurahan.

Eko menambahkan bahwa beberapa daerah telah memiliki data yang cukup lengkap mengenai keluarga miskin dan anak-anak yang mengalami stunting. Data tersebut dapat menjadi dasar dalam menentukan prioritas penerima MBG. Dengan demikian, program tidak hanya berjalan secara administratif, tetapi juga berbasis pada kebutuhan nyata di lapangan.

Sementara itu, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik S. Deyang, mengatakan bahwa pemerintah telah menyiapkan langkah-langkah strategis untuk memastikan MBG tepat sasaran. Ia menjelaskan bahwa program ini tidak akan dipaksakan kepada seluruh siswa, melainkan difokuskan pada mereka yang membutuhkan perbaikan gizi. Menurutnya, anak-anak dari keluarga mampu tidak menjadi prioritas karena kebutuhan gizi mereka sudah dapat dipenuhi secara mandiri oleh orang tua.

Nanik juga menegaskan bahwa pendekatan berbasis kebutuhan menjadi prinsip utama dalam pelaksanaan MBG ke depan. Badan Gizi Nasional telah menyiapkan tim khusus untuk melakukan pemilahan penerima manfaat agar distribusi bantuan dapat berjalan lebih efektif dan efisien. Langkah ini juga diiringi dengan penguatan sistem pengawasan dan evaluasi untuk memastikan program berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

Pengawasan terhadap proses distribusi dan kualitas makanan menjadi aspek yang tidak kalah penting. Selain itu, pendekatan berbasis kebutuhan juga dinilai mampu meningkatkan keadilan sosial dalam distribusi bantuan. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia secara merata di seluruh wilayah Indonesia.

Dalam jangka panjang, kebijakan ini juga berpotensi memberikan dampak positif terhadap pembangunan nasional. Anak-anak yang mendapatkan asupan gizi yang cukup akan memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. Hal ini tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga pada produktivitas dan daya saing bangsa secara keseluruhan.

Penguatan sistem data penerima manfaat program ini menjadi salah satu aspek penting yang terus diupayakan dalam mendukung efektivitas pelaksanaan kebijakan. Langkah ini berkontribusi pada penyaluran bantuan yang semakin tepat sasaran. Di sisi lain, koordinasi antar lembaga juga berperan penting dalam menunjang keberhasilan program. Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan berbagai pihak terkait selama ini turut menjadi faktor pendukung agar pelaksanaan program dapat berjalan lebih optimal. Dengan koordinasi yang terbangun, berbagai kendala di lapangan dapat ditangani secara lebih cepat dan tepat.

Pendekatan berbasis kebutuhan dalam Program MBG merupakan langkah strategis untuk meningkatkan efektivitas kebijakan gizi di Indonesia. Dengan fokus pada kelompok yang paling membutuhkan, program ini diharapkan dapat memberikan dampak yang lebih besar dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat.

*) Penulis merupakan pengamat sosial dan kemasyarakatan

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.