Pemerintah Berkolaborasi Perkuat Transisi Energi Rendah Karbon

oleh -8 Dilihat
oleh
banner 468x60

JAKARTA – Pemerintah bersama BUMN energi dan pelaku industri mempercepat langkah transisi menuju sistem energi rendah karbon melalui kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemanfaatan listrik hijau di industri pertambangan, pengembangan BioCNG berbasis limbah sawit, hingga proyek percontohan hidrogen hijau berbasis panas bumi.

Di sektor ketenagalistrikan, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) memperluas kerja sama dengan PT Borneo Indobara (BIB) melalui pembelian Renewable Energy Certificate (REC) skala besar. Dalam penandatanganan perjanjian jual beli REC di Angsana, Kabupaten Tanah Bumbu. BIB menambah pembelian 23.040 unit REC atau setara 40.000 MVA listrik berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT). Transaksi ini menjadi salah satu yang terbesar di Kalimantan.

banner 336x280

Direktur Retail dan Niaga PLN Adi Priyanto menegaskan, REC memberikan solusi praktis bagi dunia usaha untuk mengakses listrik hijau tanpa investasi pembangkit mandiri.

“REC memungkinkan industri menggunakan listrik hijau tanpa harus membangun pembangkit sendiri,” ungkap Adi.

Chief Operating Officer BIB, Raden Utoro menekankan bahwa stabilitas pasokan energi mutlak diperlukan. Bagi BIB, keandalan listrik hijau menjadi fondasi ekspansi usaha. Seiring pengembangan area tambang, kebutuhan daya BIB diproyeksikan meningkat hingga 200–240 MVA pada 2028, dengan target elektrifikasi alat berat mencapai 75 persen dan nol emisi pada 2028–2029.

“Instrumen sertifikat digital ini memastikan konsumsi listrik hijau tercatat, terverifikasi, dan diakui secara internasional, sehingga mendukung akses pasar global dan pembiayaan berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, di sektor gas, PT Gagas Energi Indonesia (PGN Gagas) siap menjadi offtaker utama BioCNG dari fasilitas produksi di Tapung Hilir, Kampar, Riau. Pabrik yang dikembangkan KIS Group dan AEP Group tersebut dijadwalkan beroperasi komersial pada kuartal I 2027 dengan kapasitas produksi sekitar 142.450 MMBTU per tahun dan potensi pengurangan emisi hingga 70.085 ton CO2 per tahun.

Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN Mirza Mahendra menyatakan, optimalisasi BioCNG menjadi langkah strategis memperluas portofolio gas rendah karbon.

“BioCNG menjadi langkah strategis PGN dalam memperluas portofolio gas rendah karbon sekaligus memperkuat fleksibilitas pasokan beyond pipeline dalam mendukung percepatan transisi energi,” tuturnya.

Langkah serupa dilakukan PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) yang mengalokasikan investasi sekitar tiga juta dolar AS untuk proyek percontohan hidrogen hijau di Ulubelu, Lampung. Direktur Utama PGE, Ahmad Yani mengatakan proyek ini bertujuan membuktikan kesiapan teknologi sebelum dikembangkan lebih luas.

“Untuk pilot project green hydrogen yang kita lakukan ini kurang lebih sekitar tiga juta dolar AS,” ujarnya.

Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero) Agung Wicaksono menilai pengembangan hidrogen hijau mencerminkan komitmen dekarbonisasi aset strategis.

“Transformasi menuju bisnis berkelanjutan tidak hanya konsep, tetapi sudah diterapkan langsung di aset operasional strategis,” ucapnya.

Rangkaian kolaborasi ini menunjukkan bahwa transisi energi bukan sekadar agenda lingkungan, melainkan strategi bisnis jangka panjang untuk memperkuat daya saing industri nasional, menjaga ketahanan energi, dan memenuhi tuntutan pasar global terhadap praktik rendah emisi.
(*/rls)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.