Jakarta, – Pemerintah terus memperkuat kualitas sumber daya manusia melalui pengembangan pelatihan vokasi yang selaras dengan kebutuhan industri berkelanjutan. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi menghadapi transisi menuju ekonomi hijau sekaligus membuka peluang kerja baru bagi masyarakat. Melalui penguatan balai pelatihan kerja, pemerintah menargetkan lahirnya tenaga kerja yang memiliki kompetensi sesuai perkembangan teknologi dan kebutuhan industri yang semakin mengedepankan aspek lingkungan.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengatakan pemerintah telah menyiapkan program pelatihan bagi 270.000 orang dengan dukungan anggaran sebesar Rp1,7 triliun. Anggaran tersebut akan dioptimalkan untuk meningkatkan keterampilan tenaga kerja sehingga mampu memenuhi kebutuhan dunia industri yang terus berkembang.
“Alhamdulillah dari pak presiden, kita mendapatkan dana untuk pelatihan 270.000 orang. Total anggarannya Rp 1,7 triliun, ini harus kita optimalkan,” kata Yassierli.
Menurutnya, perubahan menuju industri yang lebih ramah lingkungan tidak semata-mata menghadirkan tantangan bagi dunia ketenagakerjaan. Transformasi tersebut juga menciptakan ruang baru bagi masyarakat untuk memperoleh pekerjaan dengan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan ekonomi hijau.
“Transisi menuju kepada industri yang lebih green ini di satu sisi adalah tantangan, tetapi di sisi yang lain adalah peluang untuk penciptaan lapangan kerja yang baru,” ujarnya.
Untuk memastikan program pelatihan memberikan hasil optimal, Kementerian Ketenagakerjaan akan mendorong balai pelatihan melakukan pembaruan skema kompetensi. Penyesuaian tersebut diperlukan agar materi pelatihan tidak tertinggal dari perkembangan teknologi dan kebutuhan industri hijau. Selain itu, kapasitas instruktur akan diperkuat sehingga proses pembelajaran mampu menghasilkan tenaga kerja yang siap memasuki pasar kerja.
Penguatan kompetensi tenaga kerja juga dilakukan melalui kolaborasi lintas kementerian. Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat mengatakan pemerintah bekerja sama dengan Kemenaker dalam menyiapkan tenaga kerja di bidang refrigerasi dan tata udara atau RAC.
Dalam kerja sama tersebut, Kemenaker menyediakan tempat pelatihan, sedangkan Kementerian LH menyiapkan peralatan yang diperlukan. Sinergi ini diarahkan untuk membangun kompetensi teknisi sekaligus mendorong penerapan praktik kerja yang lebih ramah lingkungan.
“Kalau ini berhasil, insyaallah dapat menghasilkan tenaga kerja hijau atau tenaga kerja yang diingatkan untuk mengurangi emisi, kerusakan lingkungan,” kata Jumhur.
Ia menjelaskan, peningkatan kompetensi teknisi RAC juga berkaitan dengan upaya perlindungan lapisan ozon. Menurutnya, kondisi lapisan ozon menunjukkan perkembangan positif seiring meningkatnya kepatuhan negara-negara terhadap Protokol Montreal dan Amendemen Kigali.
Karena itu, peningkatan keterampilan pekerja di sektor refrigerasi dan pendingin udara menjadi bagian penting dalam mendukung penggunaan teknologi yang lebih ramah lingkungan. Pemerintah berharap penguatan balai vokasi dan kolaborasi antarkementerian mampu mempercepat kesiapan tenaga kerja nasional menghadapi transformasi industri hijau, sekaligus memperluas kesempatan kerja yang produktif dan berkelanjutan bagi masyarakat.












