Sekolah Rakyat: Dari Keterbatasan Menuju Kesempatan

oleh -5 Dilihat
oleh
banner 468x60

Oleh Bara Winatha*)

Program Sekolah Rakyat menjadi langkah strategis memperluas pendidikan inklusif dan berkualitas di Indonesia. Tidak hanya berfokus pada pembelajaran akademik, program ini mengintegrasikan layanan kesehatan, pemenuhan gizi, penguatan karakter, serta pendampingan masa depan. Pendekatan terpadu tersebut mendukung tumbuh kembang peserta didik secara optimal dan memperkuat fondasi pembangunan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing.

banner 336x280

Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono mengatakan bahwa perekrutan siswa Sekolah Rakyat tidak didasarkan pada seleksi akademis, melainkan sepenuhnya pada kondisi ekonomi keluarga. Ia menegaskan bahwa program ini secara khusus diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga miskin yang tercatat dalam desil 1 dan 2 Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional. Menurutnya, jika seorang anak berasal dari keluarga miskin maka ia layak memperoleh akses pendidikan melalui Sekolah Rakyat, bahkan apabila dalam kondisi sakit sekalipun negara memiliki kewajiban memastikan anak tersebut mendapatkan pengobatan hingga pulih sebelum kembali melanjutkan pendidikan.

Pendekatan berbasis data tunggal menjadi fondasi utama agar program berjalan tepat sasaran. Seluruh proses identifikasi penerima manfaat mengacu pada sistem data nasional yang terintegrasi, sehingga tidak terjadi tumpang tindih maupun penyimpangan dalam penentuan siswa. Agus menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam proses tersebut, serta menegaskan bahwa tidak boleh ada praktik titip-menitip atau intervensi yang menyimpang dari prinsip keadilan. Sekolah Rakyat harus menjadi ruang yang benar-benar diperuntukkan bagi mereka yang membutuhkan, bukan bagi yang memiliki akses kekuasaan.

Agus juga menambahkan bahwa apabila Sekolah Rakyat dibangun di suatu daerah, maka prioritas penerimaan siswa, guru, hingga kepala sekolah akan diberikan kepada masyarakat setempat. Kebijakan ini bertujuan agar manfaat program dirasakan secara langsung oleh komunitas lokal dan mendorong pemberdayaan daerah. Ia memandang bahwa pengentasan kemiskinan tidak dapat dilepaskan dari penguatan kapasitas sumber daya manusia di wilayah itu sendiri.

Program Sekolah Rakyat tidak berhenti pada penyediaan pendidikan menengah. Kementerian Sosial telah menjalin kerja sama dengan berbagai kementerian dan lembaga untuk memastikan lulusan memperoleh pendampingan lanjutan. Bagi siswa yang ingin melanjutkan ke perguruan tinggi, tersedia jalur koordinasi dengan kementerian terkait. Sementara bagi yang memilih langsung bekerja, disiapkan skema pelatihan dan akses ke dunia kerja agar mereka mampu membantu mengangkat kondisi ekonomi keluarga. Tujuan akhir program ini adalah memutus rantai kemiskinan antargenerasi melalui pendidikan yang terarah dan berkelanjutan.

Dukungan terhadap program ini juga datang dari kalangan mahasiswa dan organisasi kepemudaan. Ketua Bidang Riset dan Inovasi Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam, Tata Sapriadin mengatakan bahwa Sekolah Rakyat merupakan langkah strategis pemerintah dalam memperluas akses pendidikan bagi masyarakat ekonomi rendah. Berdasarkan data riset, angka putus sekolah di wilayah marginal masih menjadi persoalan serius yang berdampak pada rendahnya indeks pembangunan manusia. Dalam konteks tersebut, Sekolah Rakyat dinilai memiliki landasan yang kuat untuk menjawab tantangan pemerataan intelektual secara inklusif.

Ia memandang bahwa pemanfaatan teknologi dan literasi digital harus menjadi bagian integral dari kurikulum. Dengan demikian, siswa tidak hanya memperoleh pendidikan dasar, tetapi juga kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri masa kini. Sekolah Rakyat diharapkan dapat menjadi pusat inkubasi kreativitas di tingkat akar rumput dan melahirkan generasi muda yang siap menyongsong Indonesia Emas 2045. Pengawalan berbasis data dan riset menjadi kunci agar program ini berjalan berkeadilan dan berkelanjutan.

Di Papua, implementasi Sekolah Rakyat memperlihatkan dampak nyata pendekatan terintegrasi tersebut. Anggota DPD RI Komite III, David Harold Waromi mengatakan bahwa program Sekolah Rakyat merupakan langkah strategis dalam membangun sumber daya manusia, khususnya di wilayah yang masih menghadapi tantangan sosial-ekonomi signifikan. Ia menilai bahwa pendekatan asrama yang mengintegrasikan pendidikan, kesehatan, dan pemenuhan gizi merupakan investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi emas di Papua.

David menjelaskan bahwa di Jayapura, Sekolah Rakyat tingkat SMA telah menampung sekitar 100 siswa dari berbagai wilayah. Para siswa mendapatkan fasilitas makan dengan standar gizi terjaga, serta pemeriksaan kesehatan berkala. Pendekatan ini penting mengingat sebagian besar siswa berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi yang berdampak pada kondisi kesehatan dan tumbuh kembang anak. Ia menekankan bahwa pendidikan yang berkualitas tidak dapat dilepaskan dari pemenuhan kebutuhan dasar yang layak.

Lebih jauh, David menekankan bahwa pembangunan kesejahteraan sosial harus dimulai dari kampung sebagai basis masyarakat. Sekolah Rakyat dapat menjadi pusat pertumbuhan baru yang tidak hanya meningkatkan kualitas pendidikan, tetapi juga mendorong dinamika ekonomi lokal. Dengan anak-anak memperoleh pendidikan yang layak, diharapkan lahir generasi yang mampu kembali membangun komunitasnya secara mandiri.

Melalui sinergi antara kebijakan afirmatif, dukungan organisasi masyarakat, serta pengawasan berbasis data, Sekolah Rakyat menunjukkan arah transformasi sosial yang konkret. Program ini membuka pintu bagi anak-anak yang sebelumnya terhambat oleh kemiskinan untuk mengakses pendidikan berkualitas. Dari ruang kelas yang layak, asrama yang nyaman, hingga pendampingan masa depan, seluruh komponen dirancang untuk mengubah keterbatasan menjadi kesempatan.

*)Penulis merupakan pengamat sosial dan kemasyarakatan.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.