Danantara Siapkan Ekosistem Besar untuk UMKM: Modal, Pasar, dan Rantai Pasok BUMN

oleh -3 Dilihat
oleh
banner 468x60

Oleh: Meliana Kede

Danantara merancang lompatan besar bagi UMKM dengan membangun ekosistem terintegrasi yang menghubungkan modal, pasar, dan rantai pasok BUMN dalam satu arsitektur ekonomi yang saling menguatkan.

banner 336x280

Strategi tersebut tidak berhenti pada penyaluran pembiayaan, tetapi mengorkestrasi akses produksi, distribusi, hingga offtaker korporasi agar pelaku usaha kecil benar-benar naik kelas dan bertumbuh berkelanjutan.

Melalui berbagai inisiatif, Danantara menempatkan UMKM sebagai bagian penting dari desain pertumbuhan nasional. Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah RI, Fithra Faisal Hastiadi, menegaskan arah pembangunan pemerintah melalui proyek Danantara difokuskan pada penciptaan ekosistem ekonomi inklusif.

Ia menjelaskan pemerintah tidak sekadar mengejar pertumbuhan, tetapi pertumbuhan yang menyerap tenaga kerja dan memperkuat kelas menengah. Menurutnya, ekspansi Danantara ke sektor seperti peternakan ayam atau tekstil bertujuan mendorong pertumbuhan yang merata agar hasil ekonomi tidak terkonsentrasi pada segelintir pihak.

Fithra memaparkan data growth incidence curve yang menunjukkan tekanan terhadap kelas menengah. Ia menyebut jumlah kelas menengah turun dari 57,3 juta orang pada 2019 menjadi 47,3 juta pada periode 2024–2025.

Kelompok tersebut berada di posisi rentan karena tidak tergolong miskin penerima bantuan sosial, namun juga tidak cukup kuat menghadapi gejolak ekonomi. Karena itu, ia mendorong pembangunan inclusive economic ecosystem agar “kue ekonomi” dinikmati masyarakat luas dan tidak membentuk institusi yang bersifat ekstraktif.

Visi tersebut diterjemahkan Danantara dalam proyek hilirisasi dan penguatan sektor riil. Enam proyek fase pertama mencakup pengolahan bauksit menjadi alumina dan aluminium di Mempawah dan Kuala Tanjung, pengembangan bioetanol di Glenmore, biorefinery di Cilacap, fasilitas poultry terintegrasi di berbagai daerah, serta penguatan industri garam melalui teknologi mechanical vapor recompression di Jawa Timur.

Proyek-proyek tersebut bukan hanya meningkatkan kapasitas produksi nasional, tetapi membuka peluang rantai pasok baru bagi UMKM di sektor pangan, manufaktur, dan jasa pendukung.

Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, menyatakan lembaganya menyiapkan instrumen konkret agar UMKM naik kelas. Ia menguraikan ketersediaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan program Mekaar sebagai fondasi pembiayaan.

Selain itu, Danantara menggerakkan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan untuk memperkuat kapasitas pelaku usaha melalui pelatihan dan peningkatan kualitas produk. Menurutnya, pembinaan tersebut bertujuan menciptakan standar yang konsisten sehingga UMKM mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Dony juga menekankan konsolidasi BUMN sebagai kunci pembukaan pasar. Ia menjelaskan Danantara memiliki jaringan 130 hotel serta rumah sakit yang dapat dioptimalkan sebagai pasar bagi produk UMKM, mulai dari kebutuhan amenitas hingga pasokan barang dan jasa lainnya.

Langkah tersebut mengubah posisi UMKM dari sekadar pemasok kecil menjadi mitra strategis dalam rantai pasok BUMN. Melalui skema itu, UMKM tidak hanya memperoleh akses pasar, tetapi juga kepastian permintaan yang lebih stabil.

Perluasan akses tidak berhenti pada sektor konvensional. Chief Marketing Officer Danantara Asset Management, Dendi Tegar Danianto, mendorong pergeseran orientasi UMKM dari business-to-consumer menuju business-to-business.

Ia menilai sektor B2B menawarkan pertumbuhan yang lebih terukur dan berkelanjutan karena kontrak dan volume transaksi cenderung lebih stabil. Dendi menjelaskan pemanfaatan platform digital seperti Pasar Digital UMKM membuka koneksi langsung antara pelaku usaha dengan kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dan BUMN sebagai offtaker.

Menurutnya, potensi pasar BUMN sangat besar dan mampu menjadi lokomotif pertumbuhan UMKM. Integrasi tersebut tidak hanya memperluas pasar, tetapi juga memaksa peningkatan profesionalisme.

Dendi menyebut Danantara berupaya membuka nilai tambah melalui sistem bisnis yang lebih tertata, efektif, dan efisien. Ia juga menekankan pentingnya peningkatan kompetensi karena tidak semua pelaku usaha siap melakukan transaksi dan komersialisasi secara digital.

Selain penguatan kapasitas dan akses pasar, Dendi menempatkan pembiayaan sebagai faktor akselerator. Ia menilai UMKM yang telah memperoleh kontrak B2B memerlukan dukungan modal agar mampu memenuhi skala permintaan besar. Tanpa pembiayaan memadai, peluang pasar dapat terhambat. Karena itu, integrasi antara akses pasar dan akses pendanaan menjadi strategi kunci dalam desain ekosistem Danantara.

Pendekatan menyeluruh tersebut memperlihatkan bahwa Danantara tidak membangun program parsial, melainkan arsitektur ekonomi yang menghubungkan produksi, pembiayaan, dan distribusi dalam satu siklus pertumbuhan.

Dengan mendorong BUMN memprioritaskan UMKM dalam rantai pasok, memperluas akses KUR dan Mekaar, serta mempercepat transformasi B2B digital, Danantara menyiapkan panggung besar bagi pelaku usaha kecil untuk tumbuh lebih kokoh.

Jika desain tersebut berjalan konsisten, UMKM tidak lagi berdiri di pinggir ekosistem ekonomi nasional. Mereka masuk ke pusat arus produksi dan konsumsi, terhubung dengan pasar besar, dan didukung instrumen pembiayaan yang terstruktur. Pada titik tersebut, ekosistem inklusif bukan sekadar jargon kebijakan, melainkan fondasi nyata bagi penguatan kelas menengah dan pertumbuhan ekonomi yang lebih merata. (*)

Analis Ekonomi Makro – Sentra Ekonomi Nusantara (SEN)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.