Dari Lampu Merah ke Ruang Kelas: Sekolah Rakyat Nyalakan Harapan Baru Anak Jalanan

oleh -14 Dilihat
oleh
banner 468x60

Oleh: Dhita Karuniawati )*

Di berbagai persimpangan jalan, anak-anak yang mengamen, memulung, atau menjajakan barang dagangan kerap menjadi pemandangan sehari-hari. Bagi sebagian masyarakat, mereka adalah bagian dari realitas perkotaan yang sulit diubah. Namun, melalui Program Sekolah Rakyat, pemerintah berupaya mengubah nasib anak-anak yang selama ini hidup dan bekerja di jalanan dengan menghadirkan akses pendidikan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Program ini menjadi jembatan yang membawa mereka dari lampu merah menuju ruang kelas, sekaligus membuka peluang untuk meraih masa depan yang lebih baik.

banner 336x280

Program Sekolah Rakyat yang digagas pemerintah dirancang untuk menjangkau kelompok masyarakat yang selama ini berada di lapisan paling rentan, termasuk anak jalanan, anak terlantar, serta anak-anak dari keluarga miskin ekstrem yang belum mendapatkan layanan pendidikan secara optimal. Melalui pendekatan penjangkauan aktif, pemerintah tidak menunggu calon peserta didik datang mendaftar, melainkan mendatangi langsung kelompok sasaran berdasarkan data sosial yang telah diverifikasi.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan bahwa Sekolah Rakyat hadir sebagai upaya memperluas akses pendidikan bagi anak-anak yang belum atau putus sekolah. Program tersebut secara khusus menjangkau anak-anak yang hidup di jalanan agar mereka dapat kembali memperoleh pendidikan formal dan kesempatan mengembangkan potensi diri.

Data penjangkauan yang dilakukan pemerintah menunjukkan bahwa cukup banyak calon siswa Sekolah Rakyat berasal dari lingkungan jalanan. Dari puluhan anak yang berhasil dijaring di wilayah Jakarta, sebagian besar ditemukan ketika bekerja di jalan sebagai pengamen, pemulung, atau pekerja informal lainnya. Kondisi tersebut menggambarkan masih besarnya tantangan pendidikan bagi kelompok rentan di perkotaan sekaligus memperlihatkan pentingnya intervensi negara dalam memutus rantai kemiskinan antargenerasi.

Kisah-kisah yang muncul dari program ini menjadi bukti nyata dampak transformasi yang sedang berlangsung. Salah satunya adalah pengalaman seorang calon siswa yang sempat putus sekolah sejak duduk di bangku sekolah dasar akibat kesulitan ekonomi keluarga. Selama bertahun-tahun ia menghabiskan hidup di jalanan dan bekerja serabutan untuk bertahan hidup. Kini, melalui Sekolah Rakyat, ia kembali memperoleh kesempatan belajar yang sebelumnya terasa mustahil diraih. Harapan yang sempat padam perlahan kembali menyala.

Pemerintah menilai pendidikan menjadi instrumen paling efektif untuk mengangkat harkat hidup keluarga miskin. Karena itu, Sekolah Rakyat tidak hanya menyediakan pembelajaran akademik, tetapi juga menerapkan sistem pendidikan berasrama yang memungkinkan pembentukan karakter, kedisiplinan, dan pengembangan keterampilan hidup peserta didik secara lebih komprehensif. Sistem tersebut dirancang agar siswa mendapatkan lingkungan belajar yang kondusif sekaligus terbebas dari berbagai risiko sosial yang selama ini mereka hadapi di lingkungan asal.

Menurut Saifullah Yusuf atau yang biasa disapa Gus Ipul, Sekolah Rakyat merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap kelompok masyarakat yang selama ini belum sepenuhnya menikmati hasil pembangunan. Ia menegaskan bahwa Presiden menginginkan seluruh anak Indonesia memperoleh pendidikan yang layak tanpa ada yang tertinggal, sehingga mereka memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi generasi pemimpin bangsa di masa depan.

Komitmen tersebut juga tercermin dalam pengembangan program yang terus diperluas. Pemerintah saat ini telah mengoperasikan ratusan titik Sekolah Rakyat di berbagai provinsi dan terus mempercepat pembangunan fasilitas permanen guna meningkatkan kapasitas layanan pendidikan. Saat ini, pembangunan telah berjalan di 93 titik, sementara tujuh titik masih dalam proses lelang dan empat titik lainnya dalam tahap persiapan. Langkah ini menunjukkan bahwa Sekolah Rakyat tidak sekadar program jangka pendek, melainkan bagian dari strategi besar pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

Memasuki hampir satu tahun penyelenggaraan, Kementerian Sosial (Kemensos) berencana menggelar kegiatan open house Sekolah Rakyat untuk memperlihatkan secara langsung proses pembelajaran, fasilitas pendidikan, serta perkembangan para siswa kepada masyarakat. Saifullah Yusuf menyampaikan bahwa kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman publik mengenai penyelenggaraan Sekolah Rakyat sekaligus memperkuat dukungan berbagai pihak terhadap program tersebut.

Pemerintah menargetkan Sekolah Rakyat dapat menampung sekitar 32 ribu siswa baru tahun ini. Jika digabungkan dengan sekitar 15 ribu siswa yang telah lebih dulu mengikuti program, total peserta didik Sekolah Rakyat diperkirakan mencapai lebih dari 47 ribu siswa. Angka tersebut menunjukkan tingginya kebutuhan sekaligus besarnya harapan masyarakat terhadap akses pendidikan yang lebih merata bagi kelompok rentan.

Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial Kemensos, Idit Supriadi Priatna mengatakan anak jalanan menjadi target utama untuk mengikuti program Sekolah Rakyat yang akan digulirkan pemerintah. Mereka yang akan mengikuti program itu berangkat dari Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang telah diintegrasikan dengan Data Pokok Pendidikan (Dapodik).

Di tengah berbagai tantangan sosial yang masih dihadapi bangsa, Sekolah Rakyat menghadirkan optimisme baru. Program ini tidak hanya memindahkan anak-anak dari jalanan ke bangku sekolah, tetapi juga mengubah cara pandang bahwa kemiskinan bukanlah takdir yang tidak bisa diubah. Melalui pendidikan yang inklusif, pendampingan yang berkelanjutan, serta dukungan berbagai pihak, anak-anak yang sebelumnya hidup di bawah bayang-bayang keterbatasan kini memiliki kesempatan untuk bermimpi lebih besar.

*) Penulis adalah Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.